Login to your account

Username
Password *
Remember Me

Create an account

Fields marked with an asterisk (*) are required.
Name
Username
Password *
Verify password *
Email *
Verify email *

Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel

MANAJEMEN TOILET

Rate this item
(1 Vote)
Published in: Artikel

Jangan pernah menganggap remeh toilet. Ternyata ada organisasi toilet tingkat dunia, yakni World Toilet Organization (WTO). Di Indonesia disebut Asosiasi Toilet Indonesia. Bahkan warga dunia pun memperingati World Toilet Day atau Hari Toilet Dunia, setiap tanggal 19 November.



Tampaknya sebagian besar orang belum pernah memperingati hari tersebut. Bahkan mereka tidak tahu adanya peringatan Hari Toilet Dunia.

Peringatan Hari Toilet Dunia bertujuan untuk meningkatkan kesadaran global manusia untuk mendapatkan akses toilet yang tepat, bersih, dan sehat.

Ternyata ada juga World Toilet Summit yang bertujuan untuk membahas persoalan toilet di tingkat internasional.

Ini membuktikan bahwa toilet itu penting. Meskipun toilet dianggap penting, realitasnya masih banyak ditemukan toilet yang kondisinya sangat tidak layak, kotor, busuk, tidak ada air, pintunya rusak, bercampurnya toilet wanita-pria, dan tidak ada penerangan.

Tulisan ini dibuat atas keprihatinan terhadap kondisi toilet-toilet di kampus, sekolah, kantor, masjid, tempat umum dan berbagai tempat lainnya. Ironinya, agama kita mengajarkan budaya bersih tetapi kenyataannya masih terlalu banyak toilet yang sangat kotor dan tidak sehat di lingkungan kita.

Adanya toilet di muka Bumi sama dengan adanya manusia. Setiap orang hidup pasti memerlukan toilet karena setiap orang hidup mengeluarkan kotoran. Cara yang baik, sehat, dan beradab untuk menampung kotoran manusia adalah dengan menggunakan toilet.

Meskipun toilet sangat dekat dengan kehidupan manusia sebagian orang tidak begitu tertarik untuk membicarakan toilet karena ada kesan toilet berkaitan dengan kotoran manusia.

Padahal toilet berperanan strategis dalam menciptakan kehidupan yang bersih dan sehat. Bayangkan saja jika di suatu tempat tidak ada toilet, di mana orang akan membuang kotoran? Hidup manusia akan bermasalah jika tidak ada toilet. Sesederhana apapun toilet, ia tetap akan berguna dalam penyelamatan kotoran manusia  

Kesadaran terhadap pentingnya keberadaan toilet dalam kehidupan manusia perlu selalu ditingkatkan. Kesadaran itu mendorong manusia untuk menempatkan toilet pada ranah manajemen sehingga muncul istilah toilet management.  

Istilah manajemen toilet agak terasa aneh sebab kita sering tidak memberikan perhatian pada pengelolaan toilet. Manajemen lebih sering digunakan untuk sistem pengelolaam organisasi modern sedangkan toilet hanya sebuah ruangan kecil yang dijadikan tempat khusus untuk pembungan kotoran manusia.

Kesan toilet adalah jorok, kotor, berbau, dan diletakkan di sudut paling belakang. Kesan jorok ini pula yang menyebabkan sebagian orang kurang memberikan perhatian pada toilet.

Toilet dianggap persoalan remeh-temeh sehingga tidak perlu mendapatkan perhatian secara khusus apalagi masuk dalam bagian manajemen. Padahal sesungguhnya toilet juga merupakan salah satu bagian penting dalam proses organisasi.

Dalam kerangka teori Total Quality Management (TQM), toilet tentu saja tidak boleh dianggap remeh sebab meskipun dijadikan tempat pembuangan kotoran manusia, toilet mempunyai peran strategis dalam interaksi hubungan warga organisasi dan pembentukkan citra organisasi.

Bukankah proses pembuangan kotoran manusia juga merupakan bagian yang sangat penting dalam siklus kehidupan sehari-hari manusia yang ada dalam organisasi?

Toilet berkaitan dengan manajemen organisasi. Katanya, salah satu cara untuk melihat kualitas manajemen suatau organisasi adalah dengan memperhatikan sanitasi atau kebersihan toilet yang ada di organisasi itu.

Bila toilet dalam organisasi itu buruk maka kualitas manajemen di organisasi itu juga buruk. Akibatnya citra dan pelayanan organisasi itu hampir dipastikan buruk.

Asumsinya, orang yang memperhatikan bagian kecil seperti toilet juga dipercayai mampu mengelola bagian lain yang lebih besar. Dengan demikan, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kondisi toilet merepresentasikan kondisi organisasi tempat toilet itu berada.

Dengan demikian toilet itu perlu dikelola berdasarkan standar pengelolaan yang telah ditetapkan. Misalnya, toilet harus bersih dan tidak boleh menimbulkan bau busuk.  

Budaya Toilet
Toilet itu tidak hanya berkaitan dengan kotoran manusia. Sebagai bagian dari peradaban manusia, toilet itu berkaitan dengan sistem nilai, kepercayaan, agama, perilaku, etika, tradisi, kebiasaan dan gaya hidup.

Dalam agama tertentu ada ritual dan doa tertentu yang harus diucapkan sebelum masuk toilet. Dalam bahasa Indonesia berbagai istilah digunakan untuk menyebut toilet seperti jamban, kakus, WC dan kamar kecil. Frasa “kamar kecil” dalam kondisi tertentu sering digunakan untuk memperhalus dan membangun makna yang lebih sopan. Ini merupakan bentuk etika berbahasa dalam menggunakan kata toilet.

Sebagai bagian dari kehidupan manusia yang berbudaya, toilet berkaitan nilai-nilai positif yang perlu dikembangkan, yakni bersih, sehat, tertib, tanggung jawab, dan disiplin.

Ternyata ada unsur pembangunan karakter pada toilet sehingga pandangan kita terhadap toilet harus bersifat bersih dan positif. Mainset yang mengidentifikasi toilet sebagai tempat yang kotor dan negatif perlu diubah.

Toilet harus bersih. Toilet harus dikelola secara baik untuk menciptakan kondisi bersih. Toilet memang tempat pembuangan kotoran manusia tetapi toilet tidak harus kotor. Justru toilet harus bersih agar membuat orang sehat dan nyaman.

Toilet juga mengajarkan orang agar mempunyai etika dan tertib sehingga tidak boleh seenaknya memukul pintu toilet ketika ada orang di dalamnya. Orang yang menggunakan toilet juga harus memiliki sikap tanggung jawab dan disiplin ketika menggunakan toilet.

Pengguna toilet harus bertanggung jawab menjaga toilet agar tetap bersih, misalnya dengan menggunakan air yang telah disediakan dan tidak membuang sampah seenaknya di toilet. Sikap disiplin juga harus diterapkan dalam penggunaan air yang terdapat di toilet.

Buruknya Toilet Sekolah
Sebagian besar sekolah di Indonesia berhadapan dengan persoalan buruk dan kurangnya jumlah toilet. Padahal Standar Nasional Pendidikan (SNP) telah menetapkan standar toilet melalui Permendiknas no 24 tahun 2007 tentang standar sarana dan prasarana: jamban berfungsi sebagai tempat buang air besar dan/atau kecil, untuk tingkat SD minimum terdapat 1 unit jamban untuk setiap 60 peserta didik pria, 1 unit jamban untuk setiap 50 peserta didik wanita, dan 1 unit jamban untuk guru, untuk tingkat SMP dan SMA minimum terdapat 1 unit jamban untuk setiap 40 peserta didik pria, 1 unit jamban untuk setiap 30 peserta didik wanita, dan 1 unit jamban untuk guru, luas minimum 1 unit jamban 2 m2, jamban harus berdinding, beratap, dapat dikunci, dan mudah dibersihkan, tersedia air bersih di setiap unit jamban.

Standar toilet yang telah ditetapkan tentu saja berdasarkan kebutuhan yang telah dikaji secara mendalam. Mari kita perhatikan rasio jumlah toilet dan dengan jumlah warga sekolah yang ada di sekitar kita hari ini.

Kebanyakan sekolah belum bisa memenuhi rasio ini. Burukya lagi, kebanyakan toilet yang berada di sekolah tidak memeuhi standar sanitasi. Ini tentu saja diakibatkan lemahnya manajemen toilet yang berada ditingkat sekolah. Kekuarangan jumlah toilet di sekolah juga disebabkan lemahnya perencanaan pembangunan toilet di tingkat sekolah maupun pemerintah daerah berdasarkan Standar Sarana dan Prasaranan yang telah ditetapkan.

Toilet sekolah itu harus bersih sebab ia berada dalam lingkungan akademis yang terdiri-dari orang-orang terpelajar yang seharusnya menjunjung budaya bersih. Bukankah salah satu ciri orang terpelajar itu bersih.

Dengan demikian, setiap sekolah harus memiliki misi untuk membangun toilet yang berstandar agar semua warga sekolah memiliki akses yang mudah terhadap toilet.

Toilet yang tidak sesuai standar tentu saja menganggu proses pembelajaran di sekolah. Warga sekolah yang berada di sekolah dari pagi hingga siang dan sore pasti memerlukan toilet sehingga sangat urgen untuk menyediakan toilet sesuai dengan kebutuhan sekolah.

Bila rasio ideal toilet belum bisa dipenuhi, perbaiki saja toilet yang ada dan ciptakan toilet yang bersih dengan pendekatan manajemen yang efektif. Ketersedian air bersih di toilet sangat perlu dipenuhi sebab tanpa air bersih toilet sekolah tidak tetap sekolah kotor.

Pengelola toilet sekolah juga sangat penting sehingga setiap sekolah harus menyediakan petugas yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan toilet. Ingat teori representasi toilet yang menyatakan  “toilet merepresentasikan kualitas manajemen organisasi Anda”.***

Junaidi, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unilak dan Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Riau.

 

Read 2563 times
Last modified on Friday, 09 January 2015 03:32